Batuan di susunan tata surya juga ikut
mengorbit matahari. Suatu saat, batuan ini berpapasan dengan Bumi. Saat
itu, gravitasi Bumi menarik batuan tersebut. Lalu, masuklah batuan itu
ke atmosfer Bumi dan bergesekan di dalamnya.
Gesekan dengan atmosfer Bumi menyebabkan tekanan pada batuan
tersebut dan menimbulkan panas. Batuan meteor itu bisa saja menyala.
“Saat meteor itu masuk ke ketinggian 100 kilometer dari permukaan
Bumi, maka saat itu, volume atmosfer sangat padat dan menggesek
meteorit. Semakin mendekati Bumi, tekanannya semakin tinggi,” menurut
Thomas Djamaluddin, pakar astronomi dan astrofisika Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Lapan).Suhu akibat gesekan pun semakin tinggi. Hal ini mengakibatkan efek panas pada batuan meteor dan bisa melelehkan sebagian dari batu tersebut. Efek panas pada meteorit itu, terbawa pada saat batu tersebut jatuh ke Bumi. Efek panas batu meteorit itu tidak seperti efek pembakaran api. Efek panas meteorit itu hanya merupakan tekanan panas saja yang menghanguskan tapi bukan membakar.
Fenomena meteor jatuh atau meteor sporadis yang tak tentu ini, merupakan proses yang terjadi secara alami dan normal. “Fenomena ini tak terkait adanya peningkatan daya gravitasi Bumi, atau pemadatan atmosfer, efek rumah kaca, perubahan iklim atau pemanasan global, atau pun lubang ozon.







0 komentar:
Posting Komentar