Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

terjadinya hujan meteor

Batuan di susunan tata surya juga ikut mengorbit matahari. Suatu saat, batuan ini berpapasan dengan Bumi. Saat itu, gravitasi Bumi menarik batuan tersebut. Lalu, masuklah batuan itu ke atmosfer Bumi dan bergesekan di dalamnya.
Gesekan dengan atmosfer Bumi menyebabkan tekanan pada batuan tersebut dan menimbulkan panas. Batuan meteor itu bisa saja menyala. “Saat meteor itu masuk ke ketinggian 100 kilometer dari permukaan Bumi, maka saat itu, volume atmosfer sangat padat dan menggesek meteorit. Semakin mendekati Bumi, tekanannya semakin tinggi,” menurut Thomas Djamaluddin, pakar astronomi dan astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).
Suhu akibat gesekan pun semakin tinggi. Hal ini mengakibatkan efek panas pada batuan meteor dan bisa melelehkan sebagian dari batu tersebut. Efek panas pada meteorit itu, terbawa pada saat batu tersebut jatuh ke Bumi. Efek panas batu meteorit itu tidak seperti efek pembakaran api. Efek panas meteorit itu hanya merupakan tekanan panas saja yang menghanguskan tapi bukan membakar.
Fenomena meteor jatuh atau meteor sporadis yang tak tentu ini, merupakan proses yang  terjadi secara alami dan normal. “Fenomena ini tak terkait adanya peningkatan daya gravitasi Bumi, atau pemadatan atmosfer, efek rumah kaca, perubahan iklim atau pemanasan global, atau pun lubang ozon.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar